Jumat, 28 Juni 2013

ORGANISME PENGGANGGU UTAMA PADA TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA *



Bambang Purnomo, Ir., MP. **

Abstrak
Organisme pengganggu tanaman (OPT) mengganggu tanaman padi mulai dari awal masa pertumbuhan sampai dengan panen dan pasca panen. Rata-rata produksi padi di Bengkulu masih di bawah rata-rata produksi nasional yang salah satunya diakibatkan oleh faktor pengendalian OPT-nya. Ada tiga kelompok OPT yang sering ditempatkan pada status OPT utama atau dijadikan sasaran utama di dalam pelaksanaan pengendalian OPT, yaitu yang endemik, sporadik, dan migran. Pengendalian seyogyanya ditujukan kepada adanya keseimbangan umum bukan mengandalkan pestisida kimia yang merusak alam. Pengendalian menuju keseimbangan umum merupakan suatu sistem pengendalian yang baik dimana tidak dari segi keampuhan membunuh atau mengusir OPT saja melainkan juga memperhatikan aspek ekologis. Cara pengendalian seperti itu biasanya kita sebut pengendalian hama-penyakit terpadu (PHPT). Hal yang terpenting dalam pengendalian OPT adalah melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat ditetapkan dan dimaksimalkan usaha pencegahannya (preventif). Pencegahan serangan OPT dan penciptaan keseimbangan umum hanya dapat terlaksana jika unsur-unsur yang terlibat di dalamnya saling mendukung
*     Disampaikan pada Koordinasi Penanggulangan OPT/DPT Padi 27-28 Juni 2013 Prov. Bengkulu
**    Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu


Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Padi merupakan sumber pangan utama, sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi olahan padi. Oleh karena itu budidaya tanaman padi dilakukan secara besar-besaran di berbagai daerah di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan, ketahanan, dan permintaan pangan. Usaha meningkatkan produksi padi secara nasional sudah berjalan lebih dari 40 tahun dihitung sejak program Bimas Gotong Royong yang diterapkan di kawasan pantura melalui teknologi tri usaha tani berupa penggunaan varietas unggul PB5 dan PB8, pemupukan, dan penyemprotan hama dari udara. Usaha tersebut berhasil meningkatkan produksi beras menjadi 11-12,5 juta ton pada era tahun 1960-an akhir sampai awal 1970-an pada panca usaha tani. Sejak tahun 1989 dikembangkan program pengendalian hama terpadu (PHT) dan program ini telah membawa Indonesia diakui oleh dunia internasional karena berhasil mengembangkan pengendalian terpadu padi. Tahun 1998 Indonesia mengalami reformasi politik sehingga pengendalian terpadu yang programnya di titipkan kepada program Bimas seakan mati suri dan sampai sekarang (2013) tampaknya belum siuman. Hal ini mengakibatkan kecenderungan pengendalian hama dan penyakit padi menjadi kurang terkoordinasi.
Organisme pengganggu tanaman (OPT) yang mengganggu tanaman padi cukup menonjol sejak awal masa pertumbuhan sampai dengan menjelang panen bahkan pasca panen. Gangguan atau serangan pada setiap tahap pertumbuhan tanaman padi akan berpengaruh pada tingkat yang berbeda-beda mulai dari penurunan hasil sampai puso. Oleh karena itu kita mesti jeli dalam memperhatikan peran-peran OPT di daerah kita masing-masing tentang status OPT-nya. Di dalam makalah ini saya hanya membatasi hama dan organisme penyebab penyakit yang dibahas sebagai OPT tanaman padi, sedangkan gulma sebagai OPT tanaman padi mungkin akan dibahas di lain makalah dan lain penulis.
Meskipun dalam satuan luasan yang relatif sempit, akhir-akhir ini di provinsi Bengkulu muncul hama yang outbreak di pertanaman padi dan mungkin penyakit yang kurang termonitor. Sebagai contoh bulan Juni 2012 hama wereng menyerang tanaman padi di desa Tunggang kecamatan Lebong Utara warga mengeluh akibat racun yang disemprotkan tidak mempan. Bulan Februari 2013 terdapat lebih dari 40 hektare padi sawah milik petani di desa Taba Terunjam, Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu Tengah diserang ulat gerayak dan tiga bulan yang lalu (Maret 2013) puluhan hektare tanaman padi di desa Kota Baru Kecamatan Uram Jaya, Lebong diserang hama ulat putih. Sedikit contoh tersebut mengingatkan kepada kita semua bahwa kita mesti waspada dan berkoordinasi untuk mengendalikannya dengan prioritas mencegah kerugian petani. Menurut BPS pertanian tahun 2010, produksi padi di Bengkulu sebanyak  516 868 ton dari luasan panen hasil 133.629 ha. atau rata-rata produksinya 3,9 ton/ha yang di bawah rata-rata produksi nasional 5 ton/ha. Rendahnya rata-rata produksi padi di Bengkulu dapat juga diakibatkan oleh faktor pengendalian OPT-nya.
Kalau boleh saya meminjam istilah epidemiologi penyakit tanaman, ada tiga kelompok OPT yang sering kita tempatkan pada status OPT utama atau dijadikan sasaran utama di dalam pelaksanaan pengendalian OPT. Kelompok pertama OPT yang terdapat merata dan terjadi terus menerus di setiap musim tanam (endemik), kedua OPT yang hanya terdapat di sana-sini dan kurang meningkat (sporadik) tetapi akan sangat meningkat jika  dipicu oleh lingkungan mencekam dan ketiga adalah OPT migran yang di daerah asal menimbulkan outbreak (epidemi). Contoh OPT endemik misalnya Helmintosporium oryzae atau Desclera oryzae penyebab penyakit bercak coklat dan wereng coklat (Nilaparvata lugens), Contoh OPT sporadik misalnya jamur Pyricularia oryzea penyebab penyakit blast, Ulat grayak (Spodoptera mauritia), ulat putih (Nymphula depunctalis), tikus sawah (Rattus argentiventer), tikus semak (R exulans) dan walang sangit (Leptocorisa acuta), sedangkan contoh OPT migran misalnya keong mas (Pomace canaliculata), bakteri daun bergaris (Leaf streak Xanthomonas oryzae pv. oryzicola).
Pengendalian yang ditujukan kepada adanya keseimbangan umum merupakan jawaban dari segala permasalahan yang kompleks dalam masalah hama dan penyakit tanaman padi yang selama ini pengendaliannya masih banyak mengandalkan pestisida kimia yang merusak alam. Pengendalian menuju keseimbangan umum merupakan suatu sistem pengendalian yang baik dimana tidak dari segi keampuhan membunuh atau mengusir OPT saja melainkan juga memperhatikan aspek ekologis. Pertanyaan petani yang berhubungan dengan “racun apa yang dapat mengendalikan hama X dan penyakit Y ?’ atau rekomendasi PPL yang menganjurkan penggunaan pestisida tertentu untuk menjawab pertanyaan petani tersebut merupakan bukti bahwa pengendalian hama dan penyakit sampai sekarang masih mengandalkan aspek membunuh pengganggu yang kurang mempertimbangkan aspek ekologisnya. Berikut ini adalah beberapa OPT yang sering dijadikan sasaran utama pengendalian OPT tanaman padi.
1.     Penyakit blas (Pyricularia grisea) gejalanya dapat timbul pada daun, batang, malai, dan gabah, tetapi yang umum adalah pada daun dan pada leher malai. Gejala pada daun berupa bercak-bercak berbentuk seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya memmpunyai tepi coklat atau coklat kemerahan. Gejala penyakit blas yang khas adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil yang bulat.Tingkat keparahan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh kelebihan nitrogen dan kekurangan air. Oleh karena itu pengendalian blast yang berkaitan dengan pencegahan dapat dilakukan dengan pemupukan yang seimbang dan mengatur kebutuhan air oleh tanaman. Patogen blast sangat mudah membentuk ras baru sehingga pengendalian dengan penggunaan varietas yang semula tahan akan menjadi rentan setelah ditanam beberapa musim dan varietas yang tahan di satu tempat mungkin rentan di tempat lain.


2.   Penyakit bercak daun coklat disebabkan oleh jamur Helminthosporium oryzae atau Desclera oryzae bergajala khas yaitu bercak coklat pada daun berbentuk oval yang merata di permukaan daun dengan titik tengah berwarna abu-abu atau putih. Bercak yang masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. Pada varietas yang peka panjang bercak  dapat mencapai panjang 1 cm. Pada serangan berat, jamur dapat menginfeksi gabah dengan gejala bercak berwarna hitam atau coklat gelap pada gabah.Perkembangan penyakit sangat erat hubungannya dengan keadaan hara tanah khususnya nitrogen, kalium, magnesium, dan mangan, sehingga penyakit ini dapat lebih berkurang jika tanaman dipupuk dengan pupuk mikro.
3.  Penyakit bercak daun cercospora sering disebut bercak coklat sempit (narrow brown leaf spot) disebabkan oleh jamur Cercospora oryzae. Penyakit bercak daun cercospora merupakan penyakit yang sangat merugikan terutama pada sawah tadah hujan. Gejala penyakit timbul pada daun berupa bercak-bercak sempit memanjang, berwarna coklat kemerahan, sejajar dengan ibu tulang daun, dengan ukuran panjang kurang lebih 5 mm dan lebar 1-1,5 mm. Banyaknya bercak makin meningkat pada waktu tanaman membentuk anakan. Pada serangan yang berat bercak-bercak terdapat pada upih daun, batang, dan bunga. Pada saat tanaman mulai masak gejala yang berat mulai terlihat pada daun bendera dan gejala paling berat menyebabkan daun mengering. Infeksi yang terjadi pada pelepah dan batang meyebabkan batang dan pelepah daun busuk sehingga tanaman menjadi rebah. Pengendalian penyakit bercak daun cercospora diprioritaskan dengan penanaman varietas tahan  dan perbaikan kondisi tanaman melalui keseimbangan pemupukan N, P, dan K. 
4.      Wereng hijau (Nephotettix virescens) umumnya tidak langsung merusak tanaman padi, tetapi bertindak sebagai penular atau vektor penyakit virus tungro.
5.      Wereng coklat (Nilaparvata lugens) memiliki tingkat kemampuan reproduksi yang tinggi jika keseimbangan populasinya terganggu oleh penanaman varietas peka, perubahan iklim (curah hujan), maupun kesalahan aplikasi insektisida yang menyebabkan resurjensi hama. Pengendalian wereng coklat harus dimulai sebelum tanam. Di daerah endemis wereng coklat, pada musim hujan harus ditanam varietas tahan wereng coklat. Gunakan berbagai cara pengendalian, mulai dari penyiapan lahan, tanam jajar legowo dan penggunaan insektisida.


6.      Walang sangit (Leptocorisa acuta) hanya menyerang tanaman yang sudah berbulir dengan cara menghisab butir-butir padi yang masih sangat muda. Biji yang sudah dihisap akan menjadi hampa atau agak hampa, yang kemudian kulit biji  akan berwarna kehitam-hitaman. Faktor yang mendukung yang mendukung populasi walang sangit antara lain sawah sangat dekat dengan hutan atau semak dan populasi gulma di sekitar sawah cukup tinggi.Pengendalian pencegahannya dilakukan penangkapan menggunakan unmpan bangkai (kepithing, katak, tikus dll) pada saat tanaman menjelang bunting.
7.      Keong mas (Pomace canaliculata) merupakan hama baru yang penyebarannya cukup luas. Kerusakan terjadi ketika tanaman masih muda karena mereka memotong pangkal batang. Pengendalian yang efektif adalah dengan mengambilnya beserta kumpulan telornya  dari lahan selagi populasinya masih rendah.


8.      Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan hama perusak daun yang mempunyai kisaran inang yang luas. Tanaman inangnya antara lain jagung, tomat, kapas, tembakau, padi, kakao, jeruk, ubi jalar, kacang tanah, jarak, kedelai, kentang, dan kubis. Pengendalian ulat grayak agak sulit dilakukan karena seringkali serangan terjadi secara mendadak dan tidak diduga sebelumnya. Untuk mengendalikan ulat grayak diantaranya yaitu dengan pengendalian secara mekanis dan fisik yaitu dengan mengumpulkan kemudian membinasakan kelompok telur dan ulat yang ada di pertanaman. Pengambilan ini jangan sampai terlambat, sebab apabila ulat telah besar mereka akan bersembunyi di dalam tanah.
 


9.      Penggerek batang merusak tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan. Umumnya ada 4 jenis penggerek batang padi, yaitu penggerek batang padi kuning (Tryporyza incertulas), penggerak batang padi bergaris (Chilo suppressalis), penggerek batang padi putih (Tryporyza innotata), dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens). Kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh semua jenis hama penggerek batang adalah sama, yaitu matinya pucuk tanaman pada stadia vegetatif (sundep) dan malai yang keluar hampa pada stadia generatif (beluk). Pengendalian mekanis dapat dilakukan dengan penangkapan ngengat jantan dengan memasang perangkap feromon, mengambil kelompok telur pada saat tanaman berumur 10-17 hari setelah semai, karena hama penggerek batang sudah mulai meletakkan telurnya pada tanaman padi sejak di pesamaian.

10.  Serangan tikus sawah ( Rattus argentiventer) dan tikus semak (R exulans) dapat terjadi sejak di pesemaian, pertanaman sampai pasca panen. Perkembangbiakan tikus mulai terjadi saat primordial dan terus berlangsung sampai fase generatif. Tikus jantan siap kawin pada umur 60 hari, sedangkan tikus betina siap kawin pada umur 8 hari. Masa bunting berlangsung selama 19-23 hari. Dua hari setelah melahirkan, tikus betina mampu kawin lagi. Untuk kelangsungan hidupnya, tikus memerlukan pakan, air dan tempat persembunyian. Pengendalian tikus harus sudah dilaksanakan pada saat tanaman padi di persemaian sampai anakan maksimum. Penanaman tanaman perangkap yang dipasangi bubu merupakan usaha pencegahan (preventif) yang baik. Untuk setiap + 10 ha dapat diwakili satu petak tanaman perangkap ukuran 20 m x 20 m.


Kesimpulan
  1.  Pelaksanaan pengendalian OPT tanaman padi semestinya lebih memprioritaskan aspek pencegahan dari pada memberantasnya.
  2. Di dalam sistem budidaya tanaman padi semestinya mengarah kepada penciptaan lingkungan yang tidak nyaman bagi OPT dan melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman, sehingga ke masa depan tidak lagi mengandalkan pembunuhan OPT.
  3.  Pencegahan serangan OPT dan penciptaan lingkungan tak nyaman untuk OPT hanya dapat terlaksana jika unsur-unsur yang terlibat di dalamnya saling mendukung, misalnya antara masyarakat petani, PPL, dan kebijakan Pemerintah.

____________________BP®_____________________

Minggu, 07 Oktober 2012

SAPERANGAN MEMAYU HAYUNING PRIBADI Bambang Purnomo



 1. Di segala hal jangan terlalu bisa (sok tau) untuk memastikan, sebab banyak kejadian yang sangat banyak penyabab faktor kejadiannya yang dapat menyebabkan hal yang tak terduga efek samping dari hal tersebut. Seperti sebuah kata bijak yang pernah ada,”(bahwa) yang disebut manusia itu memang kewajibannya untuk selalu berusaha, akan tetapi kepastian adalah (tetap) selalu di tangan Tuhan yang Maha Tau (Allah)”. Jadi, tidak semestinya kalau manusia itu mengetahui ha-hal yang belum terjadi, kalaupun dapat (kesempatan) untuk mengetahuinya sebaiknya tidak diberitahukan kepada setiap orang secara jelas dan gamblang, sebab ketika digunakan untuk keperluan yang tidak baik akan mencelakakan yang memberi tahukan dan yang diberitahu
2.      Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu diibaratkan sebuah hal yang sangat indah dalam sebuah kehidupan, sama seperti sebuah perkataan yang umum diucapkan : “(berlaku) sabar itu adalah jalan utama untuk mendapatkan jalan surga”, yang dimaksud disini adalah ketentraman dan kedamaian (dalam menjalani kehidupan)”. Sabar, adalah “seperti” kemampuan untuk membawa segala macam percobaan dalam menjalani kehidupan yang akan dapat untuk mendewasakan diri. (akan tetapi kesabaran itu) juga bukan berarti tidak mempunyai pengaharapan di kerenakan “tidak berdaya lagi” untuk berjuang demi sebuah harapan, Lawan katanya (adalah) malah terlalu besar dalam sebuah harapan dan (berharap) seolah olah mampu untuk mendapatakan apa saja yang ada di dunia ini (tanpa disertai rasa mawas diri dan kesabaran)
3.      Keadaan di dunia ini tidak ada yang tetap abadi, selalu berubah dan bergerak, Jikalau dirimu kebetulan “mempunyai” harta kekayaan dan “sedang menjabat” (jabatan/berpangkat dalam sebuah pekerjaan) jangan terus merubah kebiasaan dengan tidak menghargai orang lain (menganggap remeh orang lain), selalu mengedepankan (kemampuan) kekuasaannya untuk berbuat se-mau gue kepada setiap orang tanpa mau menghiraukan orang lain, Ingat (kepastian dari Sang Pencipta) kalau kekayaan itu mudah sekali jalannya untuk hilang, Jabatan sewaktu waktu juga dapat tidak kita jabat lagi (sebab jabatan itu adalah titipan)
4.      Alangkah bagusnya ketika orang yang lagi mendapatkan “keberuntungan” dan mendapat “kebahagiaan” itu selalu tetap ingat dan selalu bersyukur kepada yang Maha Mamberi. Selalu ingatlah (kepada kesabaran / “kebijaksanaan”/ “jalan utama menuju surga”) jika selalu berbuat seperti itu, selain dapat untuk menghilankan sifat (watak) sombong juga dapat menerangkan pada diri kita sebuah rasa ikut merasakan perasaan bahwa manusia itu di lahirkan di alam dunia fana ini sebenarnya hanya menjadi “jalan” atau sebab untuk selalu menolong dan membantu kepada semua hal yang menjadi ciptaan Sang Semesta. (selalu) mengendalikan segala kesusahan/kesengsaraan. Jika ini dilakukan terus-menerus maka akan memelihara kedamaian Dunia (memayu hayuning bawana)
5.      Janganlah selalu menonjol nonjolkan segala macam kelebihan anda, apalagi selalu memamerkan kekayaan dan kepandaian anda, hasilnya perbuatan seperti itu hanya membuat dirimu menjadi cibiran orang lain dan dianggap tidak penting gitu hloo…. Lebih baik ikutilah perilaku dari tanaman padi, padi yang berisi pasti merunduk (maksudnya adalah mengedepankan sopan dan santun), padi yang belum merunduk menandakan bahwa padi tersebut kosong tanpa isi pada bulir padinya (kesombongan sebenarnya adalah keinginan untuk selalu diakui orang lain tanpa adanya penghargaan kepada orang lain)
6.      Merasa serba punya (rumangsa sarwa duwe)  dan ‘serba punya rasa (sarwa duwe rumangsa)’, itu kalau ditulis jelas hanya di bolak balik saja, akan tetapi sebenarnya artinya berbeda jauh ibaratkan bumi dan langit. Kalimat yang pertama menjelaskan sifat yang selalu menonjolkan, sombong bengis dalam segala perbuatannya, jika ingin mencapai sesuatu keinginan selalu mengunakan berbagai macam cara, semua perbuatan yang tecelapun dilakukannya untuk mendapatkan keinginannya. Sedang kalimat yang kedua artinya adalah penuh dengan belas kasih, (mengutamakan) kebijaksanaan di setiap perilaku, merasa berdosa jikalau melakukan perbuatan yang membuat orang lain tersakiti/kecewa/sedih/rendah diri dll.
7.      Walaupun besi itu pada kenyataannya memang keras, akan tetapi jika sudah “terkena” karat akan menipis dan habis. Begitu juga yang berlaku pada manusia yang terkena persaan iri hati, hatinya sedikit demi sedikit bakalan menipis, selalu merasa bahwa dia selalu tidak mendapatkan keberuntungan, sehingga kehilangan semangat dan daya juangnya untuk bekerja dan berkarya, hasilnya akhirnya hatinya menjadi kecil dan kehabisan harapan (dalam membangun impiannya)
8.      Jikalau anda secara badaniah dan rohaniah (ingin) tetap mendapatkan kesehatan dan kesalamatan, selalu ingatlah dua perkara ini :
a.    Selalu untuk menjaga/mencermati segala hal yang sifatnya informasi yang kita terima dari orang lain, dicermati dan dperitimbangkan lebih dahulu kebenaran dari informasi tesebut, sehingga kita tidak salah dalam mempercayai sebuah informasi yang di berikan kepada kita, sebab kesalahan dalam mendapatkan informasi dapat menyebabkan kita menjadi (berbuat) salah dan menyimpang.
b.    Biasakan untuk berpikir lebih dulu tentang segala hal yang akan anda ungkapkan. Inti pointnya adalah pikirkanlah lebih dahulu dengan sebaik baiknya apa yang akan anda sampaikan, jangan sampai penyampaian anda membuat anda tidak disukai orang lain dikarenakan penyampaian anda membuat sakit hati orang lain, maka sebaiknya pertimbangkanlah dahulu segala sesuatunya. Jikalau tidak ada manfaatnya (bagi kita dan orang lain), lebih baik jangan (diteruskan) sebab bila diteruskan akan mendapatkan caci maki dari orang lain.
9.      Walau disembunyikan serapi apapun, jika orang itu  sudah dikodratkan dan sudah datangnya “waktu” dari kodrat tersebut (atau pun) ajal (waktu kematian), tidak akan dapat dihindari. Hal ini memberikan sebuah peringatan kepada kita (semua), kalau manusia itu tidak mempunyai kuasa terhadap badan (pertumbuhan tubuh manusia) dan umur (nyawa manusia). Apalagi yang berbentuk barang (diluar tubuh manusia) yang hanya merupakan sebuah titipan contohnya seperti derajat, pangkat yang tinggi, (penilaian orang lain) keluhuran (perbuatan kita), kekayaan/harta benda, dan posisi penting (yang dia miliki). Oleh sebab itu janganlah takabur (berpikir semuanya mampu dilakukan sendiri), sombong terhadap kemampuan yang dimiliki dan memandang rendah orang lain yang tidak mengerti, Sebab masih ada penguasa segalah hal (Sang Semesta) yang lebih berkuasa terhadap hal apa pun.
10.  Minum dan makan yang berlebihan dan tidak memilih jenisnya dapat mendatangkan mala petaka. Oleh karena itu kendalikan keinginan makan dan minum yang seprti itu yang sekaligus sebagai usaha mencegah kerusakan fisik dan psikis. Usaha yang tepat yaitu berpuasa yang dapat berfungsi sebagai pencegahan (berbedak sebelum benjol, menghindar sebelum ketemu petaka
11.  Mempercayai sebuah informasi jika tidak dicermati terlebih dulu pasti akan dapat menyebabkan bencana (diakibatkan kesalahan pemahaman kita). Oleh sebab itu menahan diri untuk tidak gampang terpikat pada sebuah informasi yang tidak jelas kebenarannya, sudah termasuk cara dalam mencegah kesalahan kita dalam berpikir dan bertindak. Gunakanlah cara yang baik untuk mendapatkan sebuah informasi yang benar, cara tersebut adalah menahan diri untuk tidak gampang mempercayai sebuah informasi ketika kita sendiri tidak dapat/mampu membuktikannya, memperbanyak informasi (wawasan yang lain) sebelum kita mempercayai informasi tersebut, melakukan perbuatan untuk tidak mempercayai sebuah informasi ketika kita mempertimbangkan dengan masak yang disertai alasan-alasan yang jelas bahwa informasi tersebut akan menjerumuskan kita kepada sebuah hal yang salah.
12.   Ingatlah bahwa kemakmuran, rasa nyaman dan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh sebagian orang-orang kaya materi sebenarnya adalah di dapat dari memeras jerih payah rakyat banyak yang di bawah batas ambang kemiskinan.
13.   Yang disebut manusia yang sudah mendapatkan “kedewasaan yang sejati”, yaitu manusia yang benar benar (secara jasmani dan rohani) menghadap pada jalan Ilahi (jalan kebenaran) (jalan kebahagian Abadi) (jalan yang sudah di kodratkan oleh Tuhan yang Menciptakan segala hal). Manusia yang seperti itu adalah manusia yang mengerjakan segala sesuatu dengan hati tulus, kesemuanya (pekerjaan dan perilaku manusia tersebut) hanya karena kecintaannya kepada Sang Semesta/ Sang Pencipta Segala Hal (Allah). Tidak pernah (merasa) berkecil hati, kalau pun (merasa) kecewa, hal itu disebabkan karena perilaku dirinya sendiri yang dia anggap mengecewakan. Namun demikian, sebenarnya hasil perbuatannya dapat membuat “perbaikan” (perubahan kearah yang baik) yang dapat dirasakan oleh semua hal/bentuk sesama ciptaan Sang Maha Pencipta. Sebaliknya  manusia yang menjalakan (memamerkan) segala perbuatan-perbuatan baiknya disebabkan karena ingin dipuji/dihargai oleh orang lain, itu adalah tanda bahwa manusia tersebut melakukan segala hal bukan kerena kecintaannya kepada Sang Maha Pemberi.
14.   Melakukan segala hal yang bersifat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta itu sebaiknya jangan “hanya” dipakai untuk supaya keinginanmu terpenuhi/tercapai, tetapi (sebaiknya) lakukanlah hal tersebut (mendekatkan diri kepada Sang Pencipta) hanya karena anda ingin merasa dekat dengan Sang Pencipta. Sebab biasanya orang yang “hanya” meminta keinginannya saja kepada Sang Pencipta dengan “jalan” meminta terus menerus (hanya dikarenakan keuntungan pribadi), kemudian terkabul/ terlaksana keinginannya, biasanya orang tersebut menjadi meremehkan segala hal tentang ketentuan dan kebikjaksanaan Sang Pencipta. (dapat) Disebut masih (ber)untung (sebab cuman menganggap segala hal mudah) jika tidak orang tersebut bukan hanya menganggap segala hal mudah akan tetapi justru terjerumus pada sikap sombong senang meremehkan kepada segala hal ciptaan dari Sang Pencipta.
15.   Ada sebagian komunitas (orang) yang mempunyai anggapan bahwa meminta pertolongan Sang Pencipta Segala Hal itu tidak ada gunanya (tidak ada manfaatnya). Disebabkan Sang Pencipta itu Maha Adil dan Maha Mengerti sehingga tidak akan memberikan/mengabulkan “permintaan” manusia manusia yang tidak pantas untuk diberikan/dikabulkan permohonannya. Akan tetapi sepertinya orang-orang seperti itu mungkin lupa kalau Sang Pencipta Segala Hal tersebut Maha (ber)Belas dan Maha (peng)Asih. Ada juga sebagian komunitas (orang) yang tidak percaya kepada adanya Sang Pencipta Segala Hal, (hal itu sama saja) seperti tidak mempercayai kepada “perjalanan” dia sendiri sampai dia dilahirkan ke dalam alam fana ini. Akan tetapi biasanya orang orang seperti itu bila terbentur masalah besar dan pikirannya sudah buntu, biasanya justru tumbuh dari dalam hatinya kalau “Sang Maha Penguasa Segala Hal” itu ada dan kemudian memohon “sesuatu” kepada Nya.
16.   Orang yang terbiasa berlatih membersihkan hati kepada focus yang “murni” pada saat hatinya tenang, setahap demi setahap dan dilalui dengan tekun dan terus menerus, (kemudian) dikeranakan kebiasaan yang dilatihnya, orang tersebut akan dapat membersihkan hati juga disaat hati kalut dan bingung, dan ketika “dapat” (melakukan membersihkan hati disaat hati kalut dan bingung) kemudian terbiasa yang disebabkan dilatih secara terus menerus, maka orang tersebut akan “dapat” membersihkan hati dimana saja dan dalam kondisi apa pun. Sebab semua “hal itu” (membersihkan hati) adalah sebuah “cara” yang harus dilakukan berulang ulang dan dijadikan sebuah kebiasaan, sebuah cara berlatih (dengan) bersungguh sungguh dan menghilangkan sebuah “rasa” bosan (pada diri kita). Dengan cara tersebut semua hal yang tadinya terasa sulit dan berat akan hilang/musnah. Kesemuanya itu tidak ada bedanya kalau kita ingin berbuat sebuah hal yang “luhur” (baik), haruslah dengan cara berlatih terus menerus menghilangkan rasa/perasaan bosan (pada diri kita). 
17. Ketika disaat malam hari kemudian kita melihat ke angkasa yang terang, kita akan melihat sepenggal dari penampakan alam, gemerlap langit yang diterangi oleh banyaknya bintang-bintang yang berkedip, bintang besar dan bintang kecil seperti sudah tertata tempatnya, angin berhembus sepoi sepoi menggerakkan pepohonan dan dedaunan yang membawa harumnya bau berbagai macam bunga. Yang seperti itulah sebenarnya yang dapat menimbulkan sebuah rasa perasaan yang tentram di dalam bathin kita. Lebih dari itu, apa hal seperti itu tadi dapat menggerakkan kita terhadap ke agungan Yang Maha Agung yang sudah menata segala hal tersebut?