Minggu, 26 Maret 2017

BENARKAH SYEKH SITI JENAR SEBAGAI PENYEBAR ALIRAN SESAT ?



Konon (jarene) dulu kitab karangan Syekh Siti Jenar “Olah Hening digunakan sebagai pokok pengajaran, karena yang menjadi perhatian hanya lelaku shalat daim saja, sehingga orang jawa yang memeluk Islam dan yang belum, lebih mudah, jelas, dan nyata menerima ajaran. ALKISAH . . . .
Syekh Siti Jenar mengajarkan pengetahuan Olah Hening (pasamaden), sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran adalah Ki Ageng Pengging, yang kemudian menjadi muridnya, dikarenakan Syekh Siti Jenar adalah mitra dalam kebaikan dari Ki Ageng Pengging. Pengetahuan pasamaden oleh Syekh Siti Jenar juga diajarkan kepada Raden Watiswara, atau Pangeran Panggung, yang juga berpangkat wali. Kemudian juga diajarkan kepada Sunan Geseng, atau Ki Cakrajaya, yang semula bekerja menderas kelapa, (menjadi murid Sunan Kalijaga, termasuk anggota walisanga yang ikut menyaksikan dihukum matinya Syekh Siti Jenar, lalu berguru kepada Sunan Panggung). Asalnya dari Bagelen (Purworejo). Kemudian ajaran tersebut menyebar diamalkan oleh orang banyak. Demikian juga sahabat-sahabat Syekh Siti Jenar yang sudah terbuka rasanya oleh Syekh Siti Jenar kemudian mendirikan perguruan-perguruan pengetahuan pasamaden. Semakin lama semakin berkembang pesat, sehingga menyuramkan pengaruh dan penguasaan agama para wali yang sedang giat-giatnya menyerbarkan Islam syara’. Seandainya gerakan itu dibiarkan oleh para wali, terdapat kekhawatiran masjid akan kosong.
Agar tidak terjadi hal yang demikian, maka Ki Ageng Pengging, Syekh Siti Jenar serta murid dan sahabatnya dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal lehernya, dengan perintah Sultan Demak. Demikian juga Pangeran Panggung tidak ketinggalan, dipidana dimasukan kedalam bara api hidup-hidup di alun-alun Demak, sebagai peringatan agar msyarakat merasa takut, dan kalau sudah takut mereka mau membuang ajaran Syekh Siti Jenar. Diceritakan Pangeran Panggung tidak mempan oleh amuk api, dan kemudian melompat keluar dari dalam api, meninggalkan Demak. Sultan Bintara dan segenap para wali terbengong-bengong dan terkagum-kagum serta terpengaruh kewibawaan serta kesaktian Sunan Panggung, hanya kami tenggengen ( terdiam) seperti tugu. Setelah Pangeran Panggung jauh, Sultan dan para wali baru ingat jika Sunan Panggung sudah pergi dari tempat pidana, serta merasa kalah. Disertai dengan banyak prajurit Sunan Geseng atau Ki Cakrajaya pergi menyusul sunan Panggung. Sultan Demak tidak mampu menahan marah, dan melampiaskan kemarahannya, sahabat serta murid-murid Syekh Siti Jenar yang bisa ditangkap dibantai. Dilakukan pengejaran besar-besaran terhadap semua orang yang dicurigai pernah mengenyam ajaran Syekh Siti Jenar. Sebagian pengikut yang tidak tertangkap pergi meninggalkan Demak mencari perlindungan.  Para sahabat dan murid yang masih hidup, masih tetap melestarikan ajaran dan perguruan Syekh siti Jenar tentang pengetahuan pasamaden, tetapi kemudian dibalut dengan pengajaran syariat Islam, agar tidak diganggu gugat oleh para wali yang menjadi alat Negara.
Pengajaran pengetahuan pasamaden yang kemudian disebut shalat daim, dirangkapkan dengan pengajaran shalat lima waktu serta rukun-rukun Islam yang lain-lainnya. Pengajaran shalat daim itu disebagian kalangan disebut wiridan (tarekat) naksyabandiyah, sedangkan lelaku pengajarannya disebut tafakur. Sebagian ada yang dalam pengajarannya, sebelum murid menerima pengajaran shalat daim, terlebih dahulu dilatih dengan dzikir dan wirid membaca ayat-ayat suci. Oleh karena itu pengajaran pasamaden kemudian terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Pengajaran pasamaden atau wewiridan dari para sabahat Syekh Siti Jenar, yang disertai dengan pengajaran syara’ rukun agama Islam. Pengajaran tadi sampai sekarang ini sudah meleset dari ajaran pokok semula, karena itu para guru sekarang, yang mempraktikan pengetahuan pasamaden, yang diberi nama (tarekat) naksabandiyah atau Syatariyah.
2. Pengajaran pasamaden menurut Jawa, buah dari Ki Ageng Pengging, yang tadinya dipancarkan dari pengetahuan Syekh Siti Jenar (yang kemudian diberikan paraban/sebutan klenik), yaitu yang semula menjadi pembuka pengajaran, terletak pada pengelolaan perwatakan lima hal, yaitu:
a. Setya Tuhu ( kesetiaan dan ketaatan) atau temen ( bersungguh-sungguh) dan jujur.
b. Teguh-sentausa, adil dalam segala hal, bertanggung jawab dan tidak berkhianat.
c. Benar dalam segala perilaku dan perbuatan, sabar dan berbelas kasih kepada sesama, tidak menonjolkan atau membangga-banggakan diri, jauh dari watak aniaya.
d. Pandai dalam segala pengetahuan, lebih-lebih pandai dalam membuat enak perasaan sesama, ataupun juga pandai menahan dan mengendalikan rasa amarah dan jengkelnya perasaan pribadi, tidak memiliki prinsip melik nggendhong lali (kalau sudah punya dan sudah enak berpotensi lupa diri akan asalnya), hanya karena pengaruh harta benda yang gemerlapan.
e. Susila anorraga, selalu memelihara tata karma, mengendalikan akibat penglihatan dan pengaruh pendengaran  kepada pihak yang terkena.
Lelaku lima hal tadi harus dilaksanakan beserta iringan puja-brata dengan melaksanakan laku semedi, yaitu amesu cipta mengheningkan teropong penglihatan (mubasyirah). Oleh karena itu bagi pengamalan agama Jawa, bab mengenai pengetahuan pasamaden serta lelaku lima perkara diatas harus diajarkan kepada semua orang, tua muda tanpa memilih rendah tingginya derajat orang. Karena itu dengan sebab mustikanya pengetahuan atau luhur-luhurnya kemanusiaan, ini apalagi tetap semedi-nya, mampu menjalankan lima hal yang sudah disebutkan diatas. Oleh karena kita tinggal di suasana ketentraman, sedangkan keadaan tentram menyebabkan makmur-sejahtera dan kemerdekaan kita bersama. Kalau tidak demikian, sampai rusaknya dunia, kita akan tetap menanggung derita, papa dan terhina, tergilas oleh roda perputaran dunia, karena kesalahan dan terkhianati oleh perasaan kita pribadi.
Para pembaca, agar jangan keliru atau salah terima, apabila ada anggapan bahwa semedi ini menghilangkan rahsanya hidup atau nyawa ( hidupnya ) keluar dari badan wadag. Penerimaan seperti itu, pada mulanya berasal dari cerita perjalanan Sri Kresna di Dwarawati, atau sang Arjuna ketika angraga-sukma. Agar diperhatikan, bahwa cerita seperti itu tetap hanya sebagai persemuan atau perlambang (symbol, bukan hal atau cerita yang sebenarnya). Adapun uraian mengenai lelaku semedi sebagai berikut. Istilah semedi sama dengan sarasa, yaitu rasa-tunggal, maligini rasa (berbaur berjalannya rasa), rasa jati, rasa ketika belum mengerti. Adapun matangnya perilaku atau pengolahan (makarti) rasa disebabkan dari pengelolaan atau pengajaran, ataupun pengalaman-pengalaman yang terterima atau tersandang pada kehidupan keseharian. Olah rasa itulah yang disebut pikir, muncul akibat kekuatan pengelolaan, pengajaran atau pengalaman tadi. Pikir lalu memiliki anggapan baik dan jelek, kemudian memunculkan tata-cara, penampilan dan sebagainya yang kemudian menjadi kebiasaan (pakulinan/adat). Apapun anggapan baik-buruk, yang sudah menjadi tata cara disebabkan telah menjadi kebiasaan itu, kalau buruk, ya betul-betul buruk, dan kalau baik, ya memang baik sesungguhnya. Dan itu semua belum tentu, karena semua itu hanyalah kebiasaan anggapan. Adapun anggapan (penganggep), belum pasti, tetap hanya menempati kebiasaan tata cara (adat), jadi ya bukan kesejatian dan bukan kenyataan (real).
Apa yang dimaksudkan semedi disini, tidak ada lain kecuali hanya untuk mengetahui kesejatian dan kasunyatan. Adapun sarananya tidak ada lagi kecuali hanya mengetahui atau menyilahkan anggapan dari perilaku rasa, yang disebut hilang-musnahnya papan dan tulis. Ya disitu itu tempat beradanya rasa-jati yang nyata, yang pasti, yang melihat tanpa ditunjukan (weruh tanpa tuduh). Adapun terlaksananya harus mengendalikan segala sesuatunya (hawa nafsu dan amarah), disertai dengan membatasi dan mengendalikan perilaku (perbuatan anggota badan). Pengendalian anggota tadi, yang lebih tepat adalah dengan tidur terlentang, disertai dengan sidhakep (tangan dilipat di dada seperti takbiratul ihram, atau seperti orang meninggal) atau tangan lurus kebawah, telapak tangan kiri kanan menempel pada paha kiri kanan, kaki lurus, telapak kaki yang kanan menumpang pada tapak kaki kiri. Maka hal itu kemduian disebut dengan sidhakep suku (saluku) tunggal, ataupun juga dengan mengendalikan gerakan mata, yaitu yang disebut meleng. Lelaku seperti itu dilakukan bagi yang kuasa mengendalikan gerak-bisik cipta (gagasan, ide, olah pikir), serta mengikuti arus aliran rahsa, adapun pancer-nya (arah pusat) penglihatan diarahkan dengan memandang pucuk hidung, keluar dari antara kedua mata, yaitu di papasu, adapun penglihatannya dilakukan harus dengan memejamkan kedua mata.
Selanjutnya, menata keluar masuknya napas, seperti berikut, Napas ditarik dari arah pusar, digiring naik melebihi pucuk tenggorokan hingga sampai di suhunan (ubun-ubun), kemudian ditahan beberapa saat. Proses penggiringan atau pengaliran napas tapi ibarat memiliki rasa mengangkat apapun, adapun kesungguhannya seperti yang kita angkat, itu adalah mengalirnya rasa yang kita pepet dari penggiringan nafas tadi. Kalau sudah terasa berat penyanggaan ( penahanan) napas, kemudian diturunkan secara pelan-pelan. Lelaku seperti itu yang disebut sastra-cetha. Maksudnya sastra adalah tajamnya pengetahuan, cetha adalah mantapnya suara dipita suara (cethak), yaitu cethak (diujung dalam dari lidah) mulut kita. Maka disebut demikian, ketika kita melaksanakan proses penggiringan napas melebihi dada kemudian naik lagi melebihi cethak hingga sampai ubun-ubun. Kalau napas kita tidak dikendalikan, jadi kalau hanya menurutkan jalannya napas sendiri, tentu tidak bisa sampai di ubun-ubun, sebab kalau sudah sampai tenggorokan langsung turun lagi. Apalagi yang disebut daiwan (dawan), yang memiliki maksud : mengendalikan keluar masuknya napas yang panjang lagipula disertai dengan sareh (kesadaran penuh dan utuh), serta mengucapkan mantra yang diucapkan dalam batin, yaitu ucapan “hu” disertai dengan masuknya napas, yaitu penarikan napas dari pusar naik sampai ubun-ubun. Kemudian “Ya” disertai dengan keluarnya nafas, yaitu turunnya nafas dari ubun-ubun sampai pada pusar; naik turunnnya nafas tadi melebihi dada dan cethak (pita suara). Adapun hal itu disebut sastra – cetha. Karena ketika mengucapkan dua mantra sastra: “hu-ya”, keluarnya suara hanya dibatin saja, juga kelihatan dari kekuatan cethak (tenggorokan). (Ucapan dan bunyi mantra atau dua penyebutan ; “hu-ya” pada wirid Naksyabandiyah berubah menjadi ucapan; “hu-Allah”, penyebutannya juga disertai dengan perjalanan nafas. Adapun wiridan Syatariyah, penyebutan tadi berbunyi; [ la illaha illa Allah], tetapi tanpa pengendalian perjalanan nafas.). Untuk masuk keluarnya nafas seperti tersebut diatas, satu angkatan hanya mampu mengulangi tiga kali ulang, walau demikian, karena nafas kita sudah tidak sampai kuat melakukan lagi, karena sudah berat rasanya (menggeh-menggeh/ngos-ngosan ). Adapun kalau sudah sareh (sadar-normal), ya bisa dilaksanakan lagi, demikian seterusnya sampai merambah semampunya, karena semakin kuat tahan lama, semakin lebih baik. Adapun setiap satu angkatan lelaku tadi disebut tripandurat, maksudnya tri = tiga, pandu = Suci, rat = Jagat = Badan = Tempat. Maksudnya adalah tiga kali nafas kita dapat menghampiri jagat besar Yang Maha Suci bertempat didalam suhunan (yang dimintai). Yaitulah yang dibahasakan dengan pawirong kawulo Gusti, maksudnya kalau nafas kita pas naik, kita berketempatan Gusti, dan ketika turun, kembali menjadi kawula. Tentang masalah ini, para pembaca hendaklah jangan salah terima! Adapun maksud disebutnya kawula-Gusti, itu bukanlah nafas kita, akan tetapi daya ( kekuatan ) cipta kita. Jadi olah semedi itu, pokoknya kita harus menerapkan secara konsisten, membiasakan selalu melaksanakan keluar-masuk dan naik-turunnya nafas, disertai dengan mengheningkan penglihatan, sebab pengliahatan itu terjadi dari rahsa. (Diambil dari tulisan alang-alang-kumitir)

Jumat, 18 Maret 2016

LALAT BUAH TOMAT BANYAK DITEMUKAN DI BENGKULU (Bambang Purnomo)



Bactrocera umbrosa , Dacus umbrosus Fabricius, Bactrocera fasciatipennis Doleschall, Dacus diffusus Walker, Dacus fascipennis Wiedemann, Dacus frenchi Froggatt, Strumeta conformis Walker
Oleh: Bambang Purnomo
Secara ringkas: tubuhnya berwarna campuran hitam dan kuning. Lalat buah dewasa ukurannya sedang dan berwarna kuning dan sayapnya datar. Pada tepi ujung sayap ada bercak-bercak coklat kekuningan. Abdomennya ada pita-pita hitam, sedangkan thoraxnya ada bercak-bercak kekuningan. Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan bahan seperti tanduk yang keras.

Menurut: L.E. Carroll, I.M. White, A. Freidberg, A.L. Norrbom, M.J. Dallwitz, and F.C. Thompson. 2002 onwards. Pest fruit flies of the world. Version: 8th December 2006. http://delta-intkey.com’ disebutkan bahwa (dalam bhs Inggris) : 

Head. Number of frontal bristles two pairs. Number of orbital bristles one pair. Anterior orbital bristle of male normal, unmodified. Posterior orbital bristles reclinate; acuminate. Ocellar bristles absent or minute, like setulae. Postocellar bristles absent. With both inner and outer vertical bristles. Outer vertical, postvertical and postocellar bristles all acuminate. Postocular bristles acuminate; normal (sparse). Genal bristle present. Head higher than long. Male and female head width the same. Frontofacial angle much greater than a right angle and rounded. Face undulating, convex above, concave below; with distinct antennal grooves and carina; shorter than frons; vertical; with dark spots in antennal furrows (medium sized, circular, not reaching epistoma). Parafacial spot absent. Frons and parafacial without small silvery markings. Fronto-orbital plate setulose. Frontal stripe setulose. Eye round, about as high or slightly higher than long. Antenna considerably longer than face. Scape, pedicel, and first flagellomere scape and pedicel short, first flagellomere elongate. First flagellomere as long as face; rounded apically. Arista longer than first flagellomere; bare or with hairs distinctly shorter than greatest aristal width. Proboscis short, capitate.

Thorax. Inner scapular bristle present and distinguishable from surrounding vestiture; dark. Outer scapular bristle present and distinguishable from surrounding vestiture; dark. Postpronotal bristle absent. Presutural dorsocentral bristle absent. Presutural supra-alar bristle absent. Postsutural supra-alar bristle present. Acrostichal bristle present. Postsutural dorsocentral bristle absent. Intra-alar bristle present, well developed, similar to postalar bristle. Intrapostalar bristles absent. Number of scutellar bristles one pair. The single pair of scutellar bristles apical. Anterior notopleural bristle present. Posterior notopleural bristle(s) acuminate. Number of outstanding anepisternal bristles one. Katepisternal bristles absent. Anepisternal bristles dark, brown to black. Long, erect setulae on laterotergite absent. Scutal setulae acuminate and pale. Scutellum densely setulose. Setulae on scutellum short, decumbent; unicolorous, acuminate. Transverse suture with the lateral branches wide apart. Complete sclerotized postcoxal metathoracic bridge present. Scutum black; without a large dark central stripe which broadens basally. Postpronotal lobe entirely pale whitish or yellowish; concolorous with lateral postsutural stripe. Posterior half of notopleuron pale whitish or yellowish. Scutum dorsad of notopleuron of the ground color, not whitish or yellowish. Dark lyre-like pattern on scutum absent. Discrete shiny black spots on scutum absent. Median longitudinal black stripe on scutum absent. Number of pale whitish to yellow postsutural stripes two (lateral). Lateral postsutural stripes of scutum extending to intra-alar bristles or beyond. Scutum without blackish dorsocentral stripe. Area bordering scutoscutellar suture medially without dark brown spot, light colored, or without dark brown spot, brown. Discrete pale horizontal stripe along upper anepisternum absent or indistinct.
Distinct pale vertical anepisternal stripe extending to postpronotal lobe. Katepisternite with pale yellowish or whitish spot present and distinct. Transverse suture without distinct stripe or spot. Katatergite with pale yellowish or whitish spot present and distinct. Anatergite with pale yellowish or whitish spot present and distinct. Subscutellum uniformly black, or yellowish to orange-brown medially, with distinct dark spots laterally. Mediotergite uniformly black. Scutum microtrichia in discrete pattern due to density differences. Dorsum of scutellum flat or slightly convex, not swollen. Scutellum normal; without a dark and pale pattern (at most a narrow dark basal line); with no isolated dark spots; without black mark; without mark.

Legs. Femora slender. Fore femur with regular bristles; without ventral spines; with 1 to 3 posterodorsal and 1 posteroventral rows of bristles only. Mid femur and hind femur without spine-like bristles. Middle leg of male without feathering. Femora all entirely of one color; dark mark on fore femur 0% of length of femur; dark mark on middle femur 0% of length of femur; dark mark on hind femur 0% of length of femur.

Wings. Wing partly bare. Cell bc microtrichia absent. Cell c microtrichia present in apical area. Cell dm entirely microtrichose. Dense microtrichia at end of vein A1+CuA2 in male present. Dominant wing pattern cross-banded. Crossbanded wing patterns Rhagoletis-like. Wing pattern mostly yellowish, or mostly brownish. Dark longitudinal streaks through basal cells absent. Costal band complete from wing base to beyond R4+5. Apex of costal band not distinctly expanded. Costal band all one color. Crossvein r-m covered by a major crossband. Crossvein dm-cu covered by a major crossband which reaches posterior margin of wing.

Crossveins r-m and dm-cu both covered by a single crossband. Cell r2+3 apical to r-m entirely infuscated. Anal band present, reaching nearly to wing margin along cell cup extension (joining basal crossband posteriorly). Cell r1 and r2+3 without darker spots within the pattern. Intercalary band absent. Marginal hyaline area in cell r1 absent or indistinct. Ratio of width of apical band in cell r4+5 to length of r-m 0.5–0.7. Anterior apical crossband contiguous with costa over entire length, without marginal hyaline band or spots apically in cells r1 and r2+3. Anterior apical band or costal band not extended to vein M. Posterior apical crossband present; fused to anterior apical band. Costal and discal bands joined on vein R4+5. Discal band transverse, or oblique in anterobasal-posteroapical direction, or absent. Discal and subapical crossbands joined along anterior wing margin or along vein R4+5, or joined along vein M (a single band), or joined along posterior wing margin. Discal and subapical bands connected along vein R4+5. Subapical and anterior apical crossbands joined. Outstanding costal spine(s) at subcostal break absent. Ratio of length of costal section 3 to costal section 4 0.75–0.8. Ratio of pterostigmal length to width 5. Vein R1 dorsal setation without bare section opposite end of vein Sc. Vein Rs dorsal setation non-setulose. Vein R2+3 generally straight. Anteriorly-directed accessory vein emerging from R2+3 absent. Vein R4+5 dorsal setation dense over at least proximal section; ventral setation present. Distance between crossvein r-m and costa shorter than r-m. R-m crossvein on cell dm at or near distal third of cell dm. Cell bm broad, parallel-sided; ratio of length to width 2; ratio of width to cell cup width 2. Vein M distally curved anterad, or straight. Cell dm widens apically gradually from base. Posterodistal corner of cell dm distinctly acute, or approximately a right angle. Cell cup extension or lobe present, vein CuA2 abruptly bent; longer than vein A1+CuA2; with parallel margins.

Abdomen. Abdomen ovate or parallel sided. Abdominal tergites separate. Abdomen in lateral view arched, dome-like, rather rigid. Abdominal tergite 1 broader at apex than at base; without a prominent hump laterally. Pecten of dark bristles on tergite 3 of male present. Tergal glands on tergite 5 present. Abdominal tergite 5 normal. 6th tergite of female normally concealed; shorter than 5th. Abdominal setulae acuminate and pale. Abdominal microtomentum uniform, or absent. Abdominal sternite 5 of male less than 2x wider than long, not longer than wide. Posterior margin of sternite 5 of male with deep V-shaped posterior concavity. Abdominal tergites 3–5 predominantly yellow to orange brown. Abdominal tergites with medial dark stripe, usually on T3-T5 (T3-T5 or T4-T5), or with medial dark stripe on T5 only (variable); with broadly contiguous dark areas on lateral margins of T3-T5, or without isolated dark areas on lateral margins of T3-T5 (variable).
Male terminalia. Epandrium in posterior view with long outer surstyli, which are more than half as long as epandrium; lateral view with outer surstyli distinctly narrower than epandrium, clearly differentiated. Posterior lobe of surstylus short or absent. Female terminalia. Syntergosternite 7 straight; shorter than preabdomen; base without a laterally projecting flap; flattened. Ratio of syntergosternite 7 to abdominal tergite 5 1.2. Dorsobasal scales of eversible membrane about as large as other scales. Aculeus tip blunt, or gradually tapering, needle-like, with flat cross-section; fused to main part of aculeus, not movable; 0% serrated; not serrate. Two sclerotized spermathecae. Spermathecae tight-set coils. Miscellaneous. Male attractant: methyl eugenol (Bambang Purnomo)

Kamis, 28 Januari 2016

CERITERA CANDI SUKUH DARI TETANGGA KARANG ANJAR



Duluuuu, entah kapan, hidup seorang janda bernama Nyai Gadung Melati bersama putri satu-satunya yang terkenal sangat cantik jelita bernama Nini Klabang Retno. Kecantikannya alamiah dan indah, dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki menjanjikan mimpi para lelaki. Putri itu mempunyai taman yang asri dan rapi. Di setiap penjuru taman tertata berbagai tanaman hias, dari mulai Jenmani sampai Ephorbia ada. Pada suatu hari taman miliknya tak dapat pengairan yang cukup, sehingga bunga-bunga kesayangannya banyak yang layu, bahkan mati. Nini Klabang Retno jadi murung wajahnya. Berhari-hari ia dirundung sedih. Sang ibu yang mencoba menghiburnya, tak mampu mengusir kesedihannya.
“Anakku, kenapa engkau bersedih setiap hari? Tunggulah musim hujan tiba, niscaya tanamanmu akan kembali berseri. Sabarlah anakku,” hibur sang ibu memberi harapan.
“Aku ingin tamanku dan tanamanku segar kembali, aku tidak sabar menunggu musim hujan tiba. Cepatlah ibu berusaha mengalirkan air baru, agar keindahan dapat kunikmati kembali. Bukankah ada air berlimpah di atas bukit sana, bu?” rengek Nini Klabang Retno manja.
Nyai Gadung Melati sangat sayang dengan putri satu-satunya, sehingga ia memeras otak agar apa yang diinginkan putrinya segera terwujud. Akhirnya, dibuatlah sayembara (bhs sekarang = lomba berhadiah), yang intinya menyatakan bahwa barang siapa yang dapat membuat aliran air ke taman itu dan membuat segar tumbuhan yang ada di taman tersebut, kalau pemenangnya perempuan akan dijadikan saudara kandung dan kalau pemenangnya pria akan diambil menantu.

 
Begitu sayembara diumumkan, berbondong-bondonglah peserta dari berbagai penjuru daerah untuk mencoba apa yang dikehendaki sang Nyai. Berbagai daya dan upaya semua peserta berusaha mengalirkan air ke dalam taman tersebut, tetapi semuanya gagal. Satu persatu berguguran, bahkan tak sedikit yang mengalami kecelakaan, tertimbun tanah longsor atau terperosok ke jurang.
Alkisah, Ki Ageng Sukuh yang berdiam di dekat Candi Sukuh itu juga mendengar sayembara yang diselenggarakan Nyai Gadung Melati. Semula ia tidak tertarik, tapi begitu melihat tidak ada yang berhasil, jiwa kejantanannya tergugah, apalagi setelah tahu kecantikan dari Nini Klabang Retno, maka iapun mengikuti sayembara. Ki ageng Sukuh seorang yang mempunyai kesaktian dan iapun menyuruh anak buahnya untuk membuat saluran air dari desa candi Sukuh menuju desa kediaman Nyai Gadung Melati, meskipun banyak rintangan menghadang, terhalang aliran sungai atau bukit yang membuat semuanya terasa sulit dikerjakan. Setelah bersemadi, Ki Ageng membuat terobosan baru. Ia membuat terowongan, agar air dapat lancar mengalir ke tujuan. Aliran air yang membelah itu diberi nama Sungai Sumurub. Setelah berhari-hari mencangkul, akhirnya sampailah pekerjaan itu di sebuah jurang, jadi cukup terhalang pekerjaannya, karena sulit untuk ditembus. Ki Ageng yang mendengar laporan anak buahnya, segera datang melihat jurang tersebut, dan memang jurang itu tak dapat ditembus, akhirnya pekerjaan dihentikan, Ki Ageng hanya dapat mengatakan kalau tempat itu kelak akan jadi pusat penerangan desa sekitarnya. Selanjutnya, ia memerintahkan untuk membuat aliran baru dari sumber air Watu Pawon. Maka anak buahnya segera menatah batu-batu yang banyak menghalangi aliran baru itu. Sampai sekarang bekas-bekas tatahan batu itu masih terlihat, dan sungai itu disebut Kali Sinatah. Setelah bekerja keras begitu lama, Ki Ageng Sukuh berhasil mengalirkan air ke taman bunga milik Nyai Gadung Melati, dan taman tersebut semakin hari semakin berseri kembali.
Kesedihan sang putri akhirnya berganti senyum secerah mentari pagi. Nyai Gadung Melati menepati janjinya. Ia ingin tahu siapa yang berhasil mengalirkan air ke taman putrinya itu. Ki Ageng Sukuh yang mendapat undangan Nyai Gadung Melati segera turun untuk menemuinya. Angan Ki Ageng Sukuh melambung tinggi, untuk menjadi istri Nini Klabang Retno. Namun apa yang terjadi? Begitu Nyai Gadung Melati melihat Ki ageng Sukuh, kecewa. Sungguh tak dibayangkan sama sekali kalau pemenang sayembaranya adalah lelaki yang sudah tua, bahkan pantas disebut kakek-kakek. Ia pun menolak mengawinkan anaknya itu.
Ki Ageng Sukuh sangat marah kepada Nyai Gadung Melati yang mengingkari apa yang telah dijanjikan dalam sayembaranya. Ia pun mengutuk Nyai Gadung Melati menjadi patung. Nyai Gadung Melati menjadi patung dan ditendang sampai jauh. Anaknya pun dikutuk juga menjadi harimau gadungan dan langsung lari mengikuti ke arah patung sang ibu tadi. Desa tempat Nyai Gadung Melati sampai sekarang disebut Desa Gadungan, Kecamatan Ngargoyoso. Sementara Ki Ageng Sukuh dinyatakan hilang atau mukso di atas Gunung Lawu, karena rasa cinta yang ditolak menjadikannya patah hati yang sangat menyakitkan. Masyarakat sekitar menyebutnya Pangeran Lawu atau Sunan Lawu. Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu di Desa Berjo Kabupaten Karanganyar, Jateng, terdapat sebuah candi yang memiliki struktur bangunan yang unik karena bentuknya mirip bangunan piramid bangsa Maya. (Kompilasi Bambang Purnomo)